1000799940
“Si monster di kampung nelayan” Karya Kenari Damayanti

Matahari terbit diatas sungai besar Barito, memancarkan cahaya yang memantul di permukaan air. Di kampung ini yang terapung. Rumah-rumah kayu berdiri di atas rakit. Hampir semua penduduk disini menggantungkan hidup mereka dari memancing dan menjala ikan. Namun bagi Aldi, tempat ini sunyi.

Aldi adalah seorang anak laki-laki kelas 3 sd. Disaat anak anak seusianya bermain bersama, Aldi menghabiskan waktunya Sendirian. Di wajahnya.. membekas sebuah luka bakar, yang membuat anak anak lain menjauhinya. Karena luka itu, ia dijuluki “Si monster”. Karena Selalu diejek dan dikucilkan, Aldi tumbuh menjadi anak yang pemarah, dan sensitif. tatapannya selalu tajam, membuat siapapun enggan mendekat.

Suatu hari, Suasana kampung terapung mendadak riuh. Ada anak pindahan bernama Rikan, Rikan adalah perwujudan dari keceriaan. Meski kaki kanannya patah dan harus menggunakan kruk kayu kemana-mana, keterbatasan itu tidak menghalanginya. Ia menjadi anak yang populer di sekolah. Dan dalam waktu singkat, semua anak di kampung ini menyukainya. Melihat dari kejauhan, hati Aldi bergejolak. Rasa cemburu dan ini menyelinap di dadanya. “Kenapa dia yang cacat begitu bisa punya teman, sementara aku dianggap monster.” Rasa iri itu Perlahan menjadi kebencian. Meskipun Rikan sama sekali tak pernah berbuat salah padanya.

Sore itu, Langit berubah menjadi jingga. Aldi duduk di rakit bambu, sedang memancing ikan sendirian dengan pancing kecilnya. “Ketuk. ketuk. Ketuk..” suara kruk kayu terdengar mendekat. Aldi tau siapa itu, tapi ia tak menoleh. Tak ingin.” apa yang kamulakukan sendirian, Aldi?” tanya Rikan dengan senyumnya yang khas.” bukan urusanmu, pergi sana!” bentak Aldi. Namun Rikan tidak menyerah. Dia melangkah maju untuk menemani Aldi, berniat untuk berteman dengannya. Namun malangnya..Permukaan bambu yang licin membuat tumpuan kruk Rikan goyah. “Eh… eh! “Rilkan kehilangan keseimbangan. Genggamannya pada kruk terlepas. BYUR! Rikan jatuh tercebur kedalam sungai yang dalam. Tubuhnya yang kecil langsung tenggelam. Rikan tak bisa berenang. Tangan tangannya menggapai permukaan dengan panik. Melihat hal itu, tanpa pikir panjang, Aldi melompat kedalam sungai. Ia berusaha payah membawanya ke jalanan bambu, Rikan terbatuk, sementara Aldi, sambil terengah meluapkan kekesalannya pada Rikan. “Tuhkan! Gara-gara kamu gabisa renang, bajuku jadi basah semua tau!” bukannya takut atau sebal dimarahi, Rikan malah tersenyum lembut pada Aldi. “Terimakasih ya Aldi, sudan menyelamatkan Ku.” Aldi memaling kan wayahnya. “Cih, orang aneh” Keheningan sempat merayap di antara mereka, hanya terdengar suara riak air sungai yang tenang. Rasa penasaran yang mendalam membuat Aldi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

“Kamu… tak takut padaku?” tanya Aldi, suaranya mengecil, merujuk pada luka bakar di wajahnya yang biasa ditakuti orang.

Rikan menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Aku tahu kamu itu orang yang baik, Aldi. Buktinya kamu langsung menolongku tadi.”

Kata-kata sederhana itu menghantam dada Aldi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada orang yang melihat melampaui luka di wajahnya. Sejak sore yang hangat itu, mereka resmi menjadi sahabat.

Karya : Kenari Damayanti / 8C / 15

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait