Seporsi Mie Ayam di Sore Hari
Karya: Muhammad Rizqi Abadi
Suasana sore di hari itu begitu tenang, langit mulai berubah menjadi jingga. Aku duduk di atas kursi plastik hajatan berwarna hijau tosca. Bangku yang sudah kududuki tiap Sabtu sore sejak empat tahun silam.
Sayup-sayup kudengar suara dari seorang pria berusia 30 tahunan, “Biasa, Mas?” Lalu, dengan lirih aku menjawab pertanyaan dari penjual mie ayam itu, “Iya, Pak, pakai ceker sama tambah sawinya 2 ribu, ya”. Lalu dari ekor mata kulihat pedagang itu mengangguk.
Angin sejuk bercampur aroma mie ayam menerpa aku dan mengibarkan spanduk bertuliskan Mie Ayam Pak Ilyas. Aku terdiam. Suasana ini mengingatkanku akan kenangan masa kecil ketika kakakku masih hidup dan terkadang mengajakku untuk membeli seporsi mie ayam. Karena kami tidak memiliki banyak uang, kakakku hanya membeli satu porsi mie ayam, mencoba sedikit, dan kemudian mendorong mangkoknya kepadaku. Tapi sorot matanya berbinar ketika aku mulai menyantap mie ayam itu.
Perlahan langit mulai gelap, menandakan sore yang sebentar lagi akan berganti malam. Renunganku terpecah saat Pak Ilyas berkata, “Mie ayamnya sudah jadi, Mas”. Aku menyerahkan uang lima belas ribu, lalu menikmati seporsi mie ayam itu dengan perlahan. Sepulangnya aku mengayuh sepeda diiringi adzan Maghrib yang mulai bersahut-sahutan.

