IMG-20260516-WA0027
Jejak waktu di tepi sungai

Nama:Laura abhinaya B

Kelas:8A(17) 

Waktu terus berjalan, sama seperti air kali yang tak pernah berhenti mengalir melewati desa kami. Tanggal 16 Mei 2026, sore itu, langit berwarna jingga kemerahan, persis seperti lukisan yang sering dibuat Kala dulu. Jam menunjukkan pukul 17.57 saat aku duduk di bawah pohon beringin tua, tempat kami biasa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbicara tentang mimpi dan masa depan.

 

Dulu, kami sering berjanji bahwa kami akan tetap di sini, menjaga desa ini, menjaga persahabatan ini, sampai rambut kami memutih. Namun, hidup punya jalan cerita sendiri. Lima tahun lalu, Kala pergi ke kota besar untuk mengejar cita-citanya menjadi arsitek. Katanya, ia ingin belajar banyak hal agar kelak bisa pulang dan membangun desa kami menjadi lebih indah, tanpa menghilangkan keasrian alamnya. Sejak saat itu, pertemuan kami hanya lewat pesan singkat dan panggilan video, yang semakin lama semakin jarang karena kesibukan masing-masing.

 

Angin sore berhembus pelan, menerbangkan daun-daun kering ke arah sungai. Pandanganku tertuju pada sebatang pohon mangga di seberang sana. Di batangnya, masih terlihat jelas goresan dua nama kami yang diukir dengan pisau tumpul bertahun-tahun lalu. Tulisan itu sudah agak kabur tergerus hujan dan panas matahari, namun masih bisa dibaca dengan jelas. Sama seperti kenangan kami; mungkin memudar sedikit oleh waktu, namun intinya tetap ada, tak terhapuskan.

 

Suara langkah kaki memecah lamunanku. Aku menoleh, dan di sana, berdiri seorang pemuda dengan tas punggung besar, mengenakan kemeja kotak-kotak yang sudah tak asing lagi bagiku. Rambutnya yang dulu selalu berantakan kini tersisir rapi, dan wajahnya tampak lebih dewasa, namun senyum itu—senyum yang sama yang selalu membuatku merasa aman—masih sama persis.

 

“Maaf terlambat sedikit,” katanya sambil tersenyum lebar, napasnya sedikit terengah karena berjalan cepat. “Perjalanan dari terminal agak macet.”

 

Jantungku berdebar kencang, campuran antara rasa bahagia dan haru. Aku berdiri perlahan, menatapnya tak percaya. “Kala? Kau pulang?”

 

Ia mengangguk, lalu melangkah mendekat dan menepuk bahuku dengan akrab. “Aku berjanji, kan? Suatu hari nanti aku akan pulang. Dan hari ini waktunya. Aku membawa semua yang aku pelajari, dan aku berniat tinggal di sini lebih lama.”

 

Matahari mulai terbenam sepenuhnya, meninggalkan sisa cahaya samar di ufuk barat. Di bawah naungan pohon beringin itu, di detik-detik menuju pukul enam sore, kami kembali duduk berdampingan, sama seperti dulu. Banyak hal yang berubah—wajah kami, pengetahuan kami, dunia di sekitar kami—namun di antara kami, rasa persahabatan itu tetap utuh, mengalir tenang dan dalam, persis seperti air kali yang tak pernah berhenti menyapa tepian desa.

 

Hari itu, tanggal 16 Mei 2026, pukul 17.57, aku menyadari satu hal penting: waktu bisa mengubah segalanya, tapi tidak untuk kenangan dan janji yang tulus.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait