Cinta Yang Tidak Disengaja
Karya: Naafizatun Ramadani-8F/21
Mentari adalah gadis remaja kelas 11 yang sangat produktif, setiap libur sekolah Mentari selalu bersepeda pagi. Pada hari Minggu Mentari bangun pagi sekali.Ibunya yang melihat pun tak heran , “Mentari hari ini kamu mau bersepeda kemana? ”, tanya sang ibu. “Mentari berniat mau bersepeda ke alun-alun bu”, jawab Mentari. Ibunya mengangguk, tanda beliau mengizinkan putrinya pergi. “Kamu tidak sarapan dulu, ibu sudah masak sup”, tawar ibu. “Tidak bu,Mentari langsung pergi saja takut pulangnya kesiangan”, tolak Mentari. “Baiklah kalau begitu, ini minum dan roti untuk beristirahat nanti”,ucap ibu dengan menyodorkan tas kecil berisi botol minum dan kotak bekal. Mentari pun menerima nya dengan tulus, kemudian Mentari pun berpamitan dan bersaliman kepada ibunya. “Hati-hati di jalan ya nak”, pesan ibunya. “ Baik bu, Mentari pergi dulu yaa”, jawab Mentari dan pergi keluar meninggalkan sang ibu.
Selama perjalanan Mentari menikmati udara pagi yang segar dan mendengarkan musik dengan TWS di telinganya. Sesampainya di alun-alun Mentari memparkirkan sepedanya di barisan sepeda. Mentari tidak langsung duduk dan menikmati bekal yang dibawanya, Mentari mengelilingi alun-alun sebanyak 5 putaran. Tetapi belum genap 5 putaran Mentari sudah merasa lelah, cacing di dalam perutnya pun terus berbunyi—tanda perutnya lapar. Mentari akhirnya duduk disalah satu meja kosong, ia membuka tas bekalnya lalu memakan roti yang dibawakan ibunya.Mentari sudah cukup merasa kenyang,roti yang dibawa masih tersisa satu.
Tidak lama kemudian ada seorang remaja laki-laki seumuran dengan dirinya,menghampiri meja yang diduduki Mentari. Remaja tersebut bernama Kavian. “Hai, boleh aku duduk disini”, sapa Kavian. Mentari yang merasa kebingungan menjawab “hai,e-eeh boleh kok silahkan”.“Nama kamu siapa? kenalin aku Kaivan”, Kaivan mendahului pembicaraan dan menyodorkan tangannya—tanda untuk mengenalkan diri. Mentari segera membalas saliman Kaivan dan mengenal kan dirinya “aku Mentari,salam kenal ya”.Kaivan mengangguk dan mengatakan“semoga kita bisa berteman dengan baik ya”.Mentari tersenyum dan menawarkan bekal roti yang masih tersisa“kamu sudah sarapan apa belum, ini aku ada roti”.Mentari menyodorkan kotak bekal yang ia bawa.
“Trimakasih,Mentari aku tadi sudah sarapan bubur ayam”, tolak Kaivan dengan nada halus.“Kalo boleh tau kamu kesini naik apa?”, tanya Kaivan. “Aku kesini naik sepeda,kebetulan aku suka bersepeda pagi”, jawab Mentari. “Wow bagus itu, kapan-kapan kita bersepeda bareng yuk”, ajak Kaivan. “Boleh boleh atur jadwalnya saja”, jawab Mentari dengan wajah yang antusias.
Tanpa disadari mereka menghabiskan waktu olahraga nya hanya untuk berbincang hal yang tidak terlalu penting. Mentari melihat layar ponselnya jam menunjukkan pukul 08.00 WIB,Mentari segera berdiri dari tempat duduknya dan membereskan bekalnya. “Kaivan, aku pulang dulu ya”, Mentari mengakhiri perbincangan tersebut.Belum sempat Kaivan menjawab pamitan Mentari, Mentari bergegas pergi menuju parkiran sepeda.
“Mentari tunggu”, teriak Kaivan dengan mengejar Mentari. Mentari yang merasa namanya di panggil, ia pun berhenti dan berbalik ke arah belakang. Kaivan tiba didepannya “Mentari boleh aku minta nomor WhatsApp, supaya kita bisa kenal lebih dekat dan memudahkan komunikasi kalau mau bersepeda,boleh? ”, ucap Kaivan dan mengambil ponsel dari saku celananya. “E-eeh boleh”, Mentari menunjukkan nomor Whatsapp nya—yang tertera pada layar ponselnya ke Kaivan. Jari Kaivan dengan lincah mengetik nomor Whatsapp teman barunya. “Sudah Kai?”, tanya Mentari. “Kalo sudah aku pulang dulu ya nanti 𝑐ℎ𝑎𝑡 saja”, tambah Mentari. “Okei hati-hati dijalan”, balas Kaivan dan melambaikan tangannya ke arah Mentari yang sudah menjauh.
Kaivan pun pergi ke parkiran untuk mengambil motornya. Sesampainya disamping motor Kaivan berpikiran untuk menge 𝑐ℎ𝑎𝑡 Mentari. Setelah Kaivan mengambil ponsel dari sakunya, Kaivan teringat sesuatu bahwa ponsel yang digenggam sedang kehabisan paket data. Ia mengembalikan ponsel itu ke dalam sakunya dan memutuskan untuk pulang, dan ia berpikiran untuk menge 𝑐ℎ𝑎𝑡 Mentari setelah sampai dirumah.Dengan atribut berkendara yang lengkap ia langsung pergi menuju rumahnya.
Ditengah perjalanan ponsel disaku celana Mentari bergetar, ia berharap notif WhatsApp dari Kaivan. Mentari berhenti sejenak ditepian jalan , ia membuka layar ponselnya dan ternyata bukan notif dari Kaivan melainkan notif dari ibunya yang khawatir menunggu dirumah. Mentari menyempatkan beberapa detik untuk membalas 𝑐ℎ𝑎𝑡 ibunya dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya dirumah ibu sudah menanti di ruang tamu “Mentari,akhirnya kamu pulang,ibu khawatir kamu kenapa-napa di jalan”, “Ih ibu, aku ini sudah besar bisa jaga diri”, jawab Mentari dengan senyum manisnya. “Bu ibu tau tidak”,wajah antusias Mentari yang membuat rasa khawatir ibunya memudar.“Kenapa? ada apa? ”, jawab ibu dengan penuh penasaran. “Tadi aku bertemu remaja seumuran aku bu, dia tiba-tiba menghampiri aku dan duduk didepanku bu”, Mentari menceritakan kejadian tersebut dengan wajah antusias. “Oh iya, siapa namanya?”tanya ibu ikut tersenyum mendengarkan cerita putrinya. “Namanya Kaivan , dia juga minta nomor WhatsApp Mentari bu”, lanjut Mentari. “Yasudah sekarang kamu mandi dulu, ceritanya di lanjut nanti”, perintah ibunya. “Baik bu” jawab Mentari.
Mentari bergegas mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Selesainya mandi, Mentari dengan sangat bahagia langsung meraih handphone nya di atas meja belajar. Notif dari Kaivan muncul di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang Mentari segera membalas 𝑐ℎ𝑎𝑡 dari Kaivan dan menyimpan nomor nya. Jantung Mentari berdebar kencang setelah mengirim balasan 𝑐ℎ𝑎𝑡 dari Kaivan. Mentari menunggu balasan dengan penuh harapan bak menunggu hasil kejuaraan.
Tanpa disengaja pertemuan pagi itu berhasil menumbuhkan perasaan pada hati Mentari. Mentari yang menyadari dirinya jatuh suka pada seorang pria, langsung menceritakan kepada sang ibu. Ibu Mentari hanya tersenyum bahagia melihat putri sulungnya mulai merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis.“Pagi sekali nak, mau pergi kemana?”, tanya ibu. “Seperti biasa bu, Mentari mau bersepeda ke alun-alun”, jawab Mentari.Kini Mentari lebih semangat lagi ketika mau bersepeda pagi, rute yang sering ia lewati dan tempat beristirahat yang sering dikunjungi yaitu alun-alun di kotanya. Tanpa alasan lain, Mentari hanya ingin bertemu dengan Kaivan teman baru yang berhasil memikat hatinya. Tetapi beberapa kali Mentari bersepeda ke tempat yang biasa Kaivan datangi tidak membuahkan hasil—Mentari tidak bertemu Kaivan.
Suatu malam di kamar yang sunyi Kaivan berpikiran mengajak Mentari bersepeda bersama seperti yang ia katakan waktu itu. Tanpa berpikir lama ia segera menge 𝑐ℎ𝑎𝑡 Mentari. “Mentari, besok kamu ada waktu tidak? sepedaan yuk”,ajak Kaivan.Mentari yang sedang asik 𝑠𝑐𝑟𝑜𝑙𝑙 Instagram,melihat pesan dari Kaivan yang melayang di layar ponsel nya, Mentari spontan tersenyum lebar. Hal yang ia tunggu akhirnya datang. Mentari segera membalas pesan dari Kaivan “Ada kok, ayok, kamu yang nentuin rutenya ya”, balas Mentari. Tanpa menunggu lama Kaivan mengirim rute untuk bersepeda.“Ini rutenya,sebelumnya apakah kamu sudah pernah melewati?terlalu jauh tidak?”, tanya Kaivan. Mentari tampak asing dengan rute yang dikirim Kaivan.Tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi Mentari untuk menolak ajakan dari Kaivan. “Engga kok Kai, besok 𝑠𝑡𝑎𝑟𝑡 dari mana dan jam berapa kita berangkat? ”, balas Mentari. “Kita 𝑠𝑡𝑎𝑟𝑡 dari alun-alun,pukul 05.30 WIB”,jawab Kaivan.“Okei Kai”,balas Mentari.“Baiklah sampai ketemu besok”, pesan terakhir Kaivan.
Setelah membaca pesan terakhir dari Kaivan Mentari menutup ponselnya dan bersiap untuk tidur. Saking tidak sabarnya, Mentari membuat skenario untuk kegiatan bersepeda bersama sang pujaan hati. Pagi itu Mentari 𝑝𝑟𝑒𝑝𝑎𝑟𝑒 lebih awal dari biasanya. Seperti biasa Mentari tidak sarapan tetapi membawa bekal roti. Ibu Mentari sengaja membawa dua kotak bekal, beliau tau anaknya tidak bersepeda sendiri.Satu kotak untuk Mentari dan yang satunya untuk Kaivan.
Selama dalam perjalanan Mentari dan Kaivan asik berbincang-bincang, membicarakan hal yang tidak terlalu penting, hanya untuk mengisi kesunyian sepanjang perjalanan mereka. Dari perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka berdua menemukan sebuah taman, mereka pun beristirahat disana. Mentari segera mengeluarkan bekalnya dan memberikan satu kotak bekal berisi roti kepada Kaivan yang hanya membawa air putih. Setelah beberapa menit beristirahat Mentari dan Kaivan meninggalkan taman dan melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya dirumah masing-masing, tak lupa Mentari menceritakan perjalanan berangkat hingga pulang kepada ibunya. Mentari sangat senang dan gembira dapat mengisi waktu luang dengan hobi bersepeda,bersama seseorang yang ia kagumi sejak pertama kali bertemu.
Tetapi sangat mustahil jika perasaan nya dibalas oleh Kaivan. Mentari menyadari status yang ia jalankan sekarang hanya sekedar teman. Dan tidak ada harapan lebih untuk mendapatkan balasan cinta dari Kaivan. Mereka hanya tidak sengaja bertemu saat beristirahat di alun-alun waktu itu.

