Syfaul-Azizah-1
CERITA YANG TUMBUH BERSAMA WAKTU

 

Oleh : Syfa’ul Azizah

Halo, sebelumnya perkenalkan nama saya Syfa’ul Azizah, biasa dipanggil Syfaa. Saat ini saya adalah mahasiswi di Universitas Sebelas Maret. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya masih duduk di bangku SMP, memakai seragam putih biru, belajar bersama teman-teman, dan menikmati masa remaja yang penuh cerita.

Kalau mengingat masa SMP, ada banyak sekali kenangan yang masih membekas sampai sekarang. Banyak orang mengatakan bahwa masa SMP adalah masa paling indah, dan saya pun setuju dengan hal itu. Masa SMP bagi saya dipenuhi dengan kebersamaan, canda tawa, serta pengalaman yang mungkin tidak akan terulang lagi. Mulai dari belajar bersama di kelas, bercanda saat jam istirahat, hingga kegiatan sekolah yang selalu terasa menyenangkan.

Dulu saya pikir masa SMP bakal berjalan normal sampai lulus. Saya sudah membayangkan memiliki banyak kenangan di akhir sekolah, seperti acara perpisahan, foto bareng angkatan, atau sekadar main terakhir sama teman-teman sebelum pisah sekolah. Tapi ternyata hidup punya jalan cerita lain.

Waktu itu saya masih kelas 8 SMP ketika pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia. Awalnya sekolah mengumumkan libur dua minggu. Jujur aja, saya sangat senang waktu itu. Dalam pikiranku, “Wah enak banget, libur panjang.” Saya bahkan sudah membayangkan akan bersantai di rumah tanpa tugas sekolah.

Tapi ternyata semuanya tidak sesederhana itu.

Pada saat itu saya merasa sedih dan kecewa. Banyak rencana yang tidak bisa terlaksana. Saya membayangkan bisa menikmati masa-masa terakhir SMP bersama teman-teman, mengikuti berbagai kegiatan sekolah, dan merasakan acara perpisahan seperti kakak kelas sebelumnya. Namun semua itu harus hilang karena keadaan yang tidak memungkinkan. Masa SMP yang seharusnya menjadi penutup indah justru berakhir dengan pembelajaran online dari rumah

Walaupun begitu, pandemi juga mengajarkan banyak hal kepada saya. Saya belajar untuk lebih sabar, mandiri, dan menghargai waktu bersama orang-orang terdekat. Dari situ saya mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kalanya kita harus menerima keadaan dan tetap melanjutkan hidup dengan sebaik mungkin.

Setelah lulus SMP, saya melanjutkan pendidikan di SMA. Awalnya saya merasa belum siap memasuki dunia SMA karena saya masih merasa seperti anak SMP yang manja dan pendiam. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya mencoba lebih aktif, lebih berani berbicara, dan mulai mengenal banyak orang.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan saat SMA adalah ketika saya bergabung dengan ekstrakurikuler PMR. Dari sana saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran baru. Saya belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, hingga keberanian berbicara di depan banyak orang. Yang awalnya saya termasuk orang yang pendiam, perlahan saya mulai lebih percaya diri dan mampu bersosialisasi dengan banyak teman.

 

Sekarang, ketika saya sudah menjadi mahasiswa saya sering kali tersenyum ketika mengingat perjalanan hidup dari SMP hingga sekarang. Ternyata waktu benar-benar bisa mengubah banyak hal. Dari seorang anak SMP yang masih malu-malu dan belum percaya diri, kini saya belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri.

Saya percaya bahwa setiap fase kehidupan memiliki cerita dan pelajarannya masing-masing. Masa SMP mengajarkan saya tentang arti kebersamaan. Masa SMA mengajarkan saya untuk berkembang dan berani mencoba hal baru. Dan sekarang, dunia perkuliahan mengajarkan saya tentang tanggung jawab serta perjuangan untuk meraih masa depan.

Mungkin hanya ini yang dapat saya ceritakan. Saya berharap cerita sederhana ini bisa memberikan semangat bagi siapa saja yang sedang berjuang mengejar mimpi. Jangan takut gagal dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Karena setiap proses, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan, pasti akan membawa pelajaran berharga dalam hidup kita.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait