Nama:Miladia rahma
Kelas:8A,No:20
Bungkus Bekal yang Masih Hangat
Setiap pagi jam setengah enam, Pintu kamar Rani selalu diketuk pelan. Tiga ketukan. Tidak pernah lebih, tidak pernah kurang.”Makan dulu, Nak. Nanti keburu dingin.”
Itu suara Ibu. Suaranya parau karena bangun jam empat untuk menyalakan kompor. Rani sering pura-pura masih tidur. Bukan karena malas, tapi karena malu. Malu kalau Ibu tahu ia sudah bangun sejak lama, mendengar suara wajan dan helaan napas lelah dari dapur.
Di meja makan, selalu ada nasi, telur dadar yang dipotong kotak kecil, dan sambal terasi sedikit. Menu yang sama selama tiga tahun sejak Ayah meninggal dan usaha bengkelnya bangkrut.
“Ngapain masak yang ribet-ribet, Bu? Uang jajan Rani juga kecil,” pernah Rani protes waktu SMA.
Ibu cuma tersenyum sambil mengusap rambutnya yang sudah kusut kena minyak. “Biar kamu semangat sekolahnya. Kalau perut kenyang, otak juga nggak gampang nyerah.”
Rani masuk kuliah dengan beasiswa. Pulang ke rumah hanya dua minggu sekali. Setiap kali pulang, bekal itu masih ada. Hanya saja sekarang dibungkus plastik, ditaruh di tasnya sebelum ia berangkat balik ke kos.
“Buat di jalan. Nggak apa-apa kalau nggak dimakan. Yang penting Ibu tenang,” kata Ibu sambil menyelipkan bungkusan itu dengan hati-hati, seolah takut Rani berubah pikiran.
Suatu malam, Rani lembur di lab sampai jam sebelas. Perutnya keroncongan. Ia membuka tas, menemukan bungkusan bekal itu. Nasi sudah agak keras, telur dadarnya dingin. Tapi pas digigit, rasanya tetap sama seperti dulu. Asin. Hangat. Kayak dipeluk.
Rani duduk di tangga lab, makan sendirian. Tiba-tiba ia ingat: Ibu tidak pernah bertanya apakah bekalnya habis atau tidak. Ibu hanya ingin tahu ia tidak lapar sendirian di luar sana.
Telepon berdering. Nama “Ibu” muncul di layar.”Udah makan, Nak?”
Rani menelan nasi yang ada di mulutnya, lalu menjawab pelan, “Udah, Bu. Hangat banget.”Di ujung telepon, Ibu tertawa kecil. Lega.
Kasih sayang orang tua itu aneh. Ia tidak berteriak, tidak minta dibalas. Ia cuma diam-diam masuk ke dalam tas, ke dalam perut, ke dalam hati… dan tetap hangat bahkan setelah dingin.

